Malam itu gue masih inget banget. Lagi duduk di lantai kamar kos yang ukurannya nggak lebih besar dari kasur queen size, sambil buka laptop dan ngeliatin tiga email masuk. Dua undangan interview dari perusahaan di Jakarta, satu tawaran magang di kampung halaman. Semuanya terlihat oke di atas kertas. Tapi kepala gue rasanya kayak diaduk-aduk.
Kalau kamu anak rantau yang lagi di semester akhir atau baru lulus, kemungkinan besar kamu pernah ada di posisi ini. Dua pilihan yang sama-sama masuk akal, tapi cuma bisa pilih satu. Dan nggak ada yang bisa mastiin mana yang bakal jadi keputusan terbaik. Termasuk gue, sampai sekarang.
Baca juga: Tinggal 2 Hari di Kota Ini, Masih Sempat Wawancara Kerja?
Dua Pilihan, Dua Cerita yang Beda Banget
Kerja di kota perantauan itu ibarat main game level hard dari awal. Kamu harus bangun jaringan dari nol, saingan banyak, biaya hidup tinggi, tapi pintu kariernya juga lebar. Sementara pulang kampung itu kayak main game level easy — tapi kadang level easy-nya bukan berarti nggak ada tantangan, cuma tantangannya beda bentuk.
Baca Juga: al-kawakibi1.com
Gue pernah ngerasain dua-duanya. Waktu awal-awal kerja di Jakarta, gue harus ngirit makan sampai pernah seminggu cuma makan nasi telur. Tapi di sisi lain, gue ketemu orang-orang yang bikin cara pikir gue berubah total. Ada juga temen gue yang milih pulang ke Solo, dan sekarang dia udah punya usaha sendiri yang lumayan jalan. Jadi nggak ada yang salah dari dua pilihan ini.
Kalau Kamu Pilih Tetap di Kota Perantauan
Ada beberapa hal yang bikin pilihan ini masuk akal buat banyak anak rantau:
Informasi selengkapnya bisa dibaca di 18TOTO.
- Peluang karier lebih variatif. Di kota besar, kamu bisa pindah industri, pindah perusahaan, atau bahkan pindah jalur karier tanpa harus pindah kota. Fleksibilitas ini mahal harganya.
- Jaringan profesional lebih luas. Seminar, komunitas, coworking space, networking event — semua ada. Kamu tinggal milih mau ikut yang mana.
- Gaji awal biasanya lebih tinggi. Tapi ingat, biaya hidupnya juga ikut naik. Jadi jangan cuma lihat angkanya doang.
Tapi jujur ya, ada harga yang harus dibayar. Kamu bakal sering ngerasa capek secara mental karena jauh dari keluarga. Pulang ke kos yang sepi setelah hari panjang di kantor itu rasanya nggak selalu indah. Belum lagi kalau ada acara keluarga di kampung dan kamu nggak bisa hadir karena cuti terbatas.
Kerja di rantau itu bukan cuma soal karier. Ini soal seberapa tahan kamu sama rasa sepi yang datang tanpa diundang.
Kalau Kamu Pilih Pulang Kampung
Pulang kampung bukan berarti karier kamu stuck. Ini yang sering disalahpahami orang. Banyak yang mikir kalau balik ke daerah, artinya kamu nggak ambisius. Padahal nggak gitu.
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
- Biaya hidup jauh lebih murah. Kamu bisa nabung lebih banyak dari gaji yang mungkin lebih kecil, karena pengeluaran juga kecil.
- Dukungan keluarga langsung. Mau makan apa, ada yang masakin. Mau curhat, ada yang dengerin. Hal-hal kecil ini ternyata berdampak besar buat kesehatan mental.
- Peluang usaha lebih terbuka. Di kota kecil, kompetisi bisnis lokal belum seketat di Jakarta. Kalau kamu punya skill dari kota besar, kamu bisa jadi pemain utama di kampung sendiri.
Tapi konsekuensinya, pilihan karier kamu mungkin lebih terbatas. Nggak semua industri ada di kampung halaman. Kalau kamu kerja di bidang teknologi misalnya, pilihan perusahaan bisa dihitung pakai jari. Dan kadang, lingkungan sosial di kampung bisa terasa lebih "sempit" buat sebagian orang yang udah terbiasa dengan kebebasan kota.
Yang Sering Dilupain Anak Rantau
Ada satu hal yang hampir selalu kelewat saat kita sibuk membandingkan dua pilihan ini: kamu nggak harus memilih permanen. Ini bukan keputusan sekali seumur hidup. Banyak orang kerja di kota dulu 2-3 tahun, baru pulang kampung bawa pengalaman dan tabungan. Ada juga yang pulang dulu, ternyata ngerasa kurang cocok, terus balik lagi ke kota.
Gue sendiri dulu sempat ngerasa gagal waktu pertama kali pulang kampung setelah setahun kerja di Jakarta. Rasanya kayak mundur. Tapi ternyata dari situ gue belajar banyak hal yang nggak gue dapet di kota — soal sabar, soal ngerti orang, soal ngatur ekspektasi sendiri. Nggak ada yang sia-sia, serius.
Yang penting, kamu tahu alasan kenapa kamu milih. Bukan karena ikut-ikutan teman, bukan karena tekanan orang tua, bukan juga karena takut dianggap nggak keren. Kalau alasannya jelas, kamu bakal lebih tahan banting waktu ketemu masa-masa sulit — dan masa sulit itu pasti datang, di mana pun kamu berada.
Cara Ngambil Keputusan Tanpa Drama Berlebihan
Coba deh tanya ke diri sendiri beberapa hal ini sebelum mutusin:
Untuk topik 18TOTO - Cara Verifikasi Akun Pragmatic Play Terbaru Agar Transaksi Lancar Tanpa Kendala, baca ulasan lengkapnya di sini.
Cari yang bikin semangat? Mulai berburu pilihan permainanmu!
- Apa yang paling kamu butuhin 2 tahun ke depan? Uang? Pengalaman? Kedekatan sama keluarga? Jawabannya beda-beda tiap orang, dan itu nggak apa-apa.
- Seberapa besar toleransi kamu sama ketidaknyamanan? Kalau kamu tipe yang gampang stres sama kemacetan dan hidup sendirian, mungkin pulang kampung lebih masuk akal.
- Apa kamu bisa bayangin hidup di pilihan itu selama 5 tahun? Kalau jawabannya bikin kamu sesak napas, mungkin itu bukan pilihan yang tepat buat sekarang.
Nggak ada rumus pasti. Yang ada cuma kejujuran sama diri sendiri. Dan kalau ternyata salah pilih? Ya tinggal ganti. Hidup ini bukan ujian pilihan ganda yang jawabannya nggak bisa direvisi.
Jadi buat kamu yang lagi galau antara lanjut di kota perantauan atau balik ke kampung halaman — tenang aja. Kamu nggak sendirian. Ribuan anak rantau lain juga lagi duduk di kamar kos mereka masing-masing, ngeliatin laptop, dan ngerasain hal yang sama. Pilih yang bikin kamu bisa tidur tenang malam ini. Sisanya, jalanin aja dulu.