Gue masih inget banget momen pertama kali duduk di ruang wawancara. Tangan dingin, suara serak, dan pertanyaan pertama bikin otak blank. Waktu itu gue pikir, wawancara kerja ya cuma soal jawab pertanyaan sebaik mungkin. Ternyata salah. Setelah sebulan gue coba dua pendekatan yang beda banget—wawancara formal 30 menit dan ngobrol santai sama perekrut—baru kerasa bedanya. Dan jujur, bedanya nggak muncul di hari pertama. Baru kerasa di minggu ketiga.
Kenapa Gue Coba Dua Gaya Ini?
Sebagai pemula, gue nggak punya banyak referensi. Temen gue ada yang bilang, "Kalau wawancara, jawabnya harus formal, jangan banyak becanda." Temen lain malah nyaranin, "Santai aja, anggap ngobrol sama temen." Dua saran ini bertolak belakang banget. Jadi gue putusin buat nyoba dua-duanya dalam sebulan terakhir, sambil nyatet apa yang berubah dari cara gue lihat wawancara kerja.
Baca juga: Wawancara Kerja Bikin Deg-degan? Ini Cara Ngadepinnya
Yang gue maksud "wawancara 30 menit" itu sesi formal: duduk di ruang meeting, pertanyaan terstruktur, gue jawab pakai pola STAR (Situation, Task, Action, Result) yang gue hafal dari YouTube. Sementara "ngobrol santai" itu sesi di mana perekrut ngajak ngopi, tanya soal hobi, dan pertanyaan kerjanya nyelip di tengah obrolan.
Minggu Pertama: Formal Terasa Lebih Aman
Di awal, gue ngerasa wawancara formal lebih "bener". Semua pertanyaan ada jawabannya, gue tinggal siapin script. Rasanya kayak ujian yang udah ada kisi-kisinya. Tapi ada satu hal yang ganggu: setelah wawancara selesai, gue nggak inget apa-apa selain pertanyaan dan jawaban. Nggak ada rasa "oh, perusahaan ini kayaknya asik" atau "gue cocok nggak ya di sini".
Baca Juga: ruangnalarangka.com
Wawancara santai di minggu pertama malah bikin gue panik. Pertanyaan kayak "Kalau lagi stres, kamu ngapain?" bikin gue mikir keras. Tapi anehnya, setelah selesai, gue bisa cerita ulang ke temen dengan detail. Gue inget perekrutnya ngomong apa, gue ketawa di bagian mana, dan gue tau timnya kayak apa.
Di minggu pertama, formal menang di rasa aman. Santai kalah di persiapan, tapi menang di kesan yang nempel.
Minggu Kedua: Mulai Kerasa Capeknya
Ini bagian yang nggak gue duga. Wawancara formal, kalau dijalanin berkali-kali, capeknya bukan main. Bukan capek fisik, tapi capek "jadi orang lain". Gue harus terus-terusan nahan diri, milih kata, dan nggak boleh ngelantur. Setiap sesi 30 menit itu rasanya kayak akting.
Yang bikin makin berat, gue mulai sadar kalau jawaban gue jadi template. Pertanyaan beda, jawaban gue sama. Perekrut mungkin nggak sadar, tapi gue sendiri bosen. Sementara wawancara santai, meski bikin deg-degan di awal, bikin gue lebih bebas ngomong. Gue bisa cerita soal proyek kampus yang berantakan, dan perekrut malah nanya balik, "Terus kamu ngapain?" Obrolan jadi dua arah, bukan interogasi.
Minggu Ketiga: Perubahan yang Beneran Kerasa
Nah, di sinilah plot twist-nya. Setelah sebulan, gue ngerasain tiga perubahan yang cukup signifikan:
- Gue jadi lebih jago baca ruangan. Wawancara formal bikin gue fokus ke diri sendiri—apa yang harus gue jawab. Wawancara santai bikin gue belajar baca sinyal: perekrut ngangguk atau bengong, dia tertarik atau cuma sopan.
- Gue berhenti hafal script. Ini efek dari kebanyakan ngobrol santai. Gue jadi bisa jawab pertanyaan "kenapa kamu milih jurusan ini" tanpa mikir pola STAR dulu. Jawaban jadi lebih natural, dan gue ngerasa lebih jujur.
- Gue mulai milih perusahaan, bukan cuma dipilih. Ini yang paling gede efeknya. Wawancara santai bikin gue bisa ngerasain kultur perusahaan. Kalau obrolannya kaku dan perekrutnya nggak tertarik sama jawaban gue, gue jadi mikir dua kali buat lanjut.
Yang Nggak Gue Duga: Formal Tetap Perlu
Jangan salah paham. Gue nggak bilang wawancara formal itu jelek. Ada perusahaan yang emang butuh sesi terstruktur, apalagi kalau posisinya teknis atau manajerial. Yang berubah dari cara pandang gue adalah: formal itu alat, bukan tujuan. Kalau semua wawancara dijalanin formal, kita cuma belajar jadi mesin penjawab pertanyaan.
Yang bikin gue sadar ini justru momen di minggu ketiga, waktu gue wawancara di satu startup. Sesi awalnya formal, tapi di tengah-tengah perekrutnya nutup laptop dan bilang, "Oke, sekarang ngobrol biasa aja." Gue langsung rileks, dan obrolan setelah itu jadi sesi paling produktif yang pernah gue jalanin. Di situ gue sadar, dua gaya ini bukan musuh. Mereka bisa dipakai bareng.
Buat Kamu yang Baru Mulai
Kalau kamu pemula dan lagi coba-coba masuk dunia kerja, saran gue simpel: jangan cuma latihan jawab pertanyaan. Latihan juga ngobrol. Ajak temen ngobrol soal kerjaan impian kamu tanpa script, rekam, terus dengerin lagi. Kamu bakal sadar bagian mana yang kedengeran palsu.
Sebulan ini ngajarin gue satu hal: wawancara kerja bukan ujian yang harus dilewatin, tapi percakapan buat nyari tau apakah kamu dan perusahaan cocok. Kalau kamu cuma siapin jawaban, kamu cuma dapet penilaian. Kalau kamu siapin obrolan, kamu dapet gambaran.
Dan percaya deh, perubahan itu nggak kerasa di hari pertama. Baru di minggu ketiga, waktu kamu sadar udah nggak deg-degan lagi, kamu bakal ngerti kenapa dua gaya ini penting buat dicoba.